Berita

"MOPODAHA" Pameran Seni Rupa Ke-10 Jurusan Seni Rupa dan Desain UNG

Administrator | 24 Desember 2020 | 16:36:51

Pameran seni rupa yang diselenggarakan oleh mahasiswa Jurusan Seni Rupa dan Desain Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo adalah pameran berkala tiap tahun sebagai rangkaian kegiatan akademik. Pameran ke10 yang berlangsung dari tanggal 21-24 Desember 2020 ini dibuka oleh Bupati Bone Bolango dan didampingi Wakil Rektor III UNG.

Pameran seni rupa ke-10 yang dimotori oleh mahasiswa angkatan 2017 ini merupakan implementasi kurikulum Kampus Merdeka-Merdeka Belajar yang mengintegrasikan beberapa matakuliah melalui program pengabdian proyek desa. Program dilaksanakan di Desa Huntu Utara dan Huntu Selatan Kecamatan Bulango Selatan Kabupaten Bone Bolango. Adapun tujuanya adalah membantu masyarakat dalam merintis dan mengembangkan Desa Huntu sebagai desa kreatif dengan memanfaatkan berbagai potensi desa tersebut.

Kehadiran mahasiswa Jurusan Seni Rupa dan Desain melalui program proyek desa Kampus Merdeka-Merdeka Belajar diharapkan mampu bersinergi dengan masyarakat dalam mengembangkan berbagai potensi desa tersebut melalui berbagai bentuk kegiatan, seperti: pelatihan (workshop) seni-kerajinan, penataan lingkungan, pengemasan desa wisata, pasar seni desa, kompetisi seni, dan sebagainya. Sinergi ini akan mengantarkan mahasiswa menjadi lebih peka dalam mencermati beragam potensi dan permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat desa, kemudian berupaya menyelesaikan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang cita-citakan. Dalam konteks ini, dunia kampus dengan kehidupan masyarakat tidak ditempatkan dalam posisi hierarkis, tetapi sebagai mitra dalam posisi kolaboratif.

Pameran yang diselenggarakan ini merupakan muara dari hasil kerja kolaboratif antara mahasiswa dengan masyarakat Desa Huntu selama satu semester. Oleh karena itu, Pameran kali ini berbeda dengan pameran-pameran seni rupa sebelumnya, terutama dari segi tempat dan materi pameran. Jika pameran sebelumnya dilaksanakan dalam ruang tertutup (gedung), tetapi pameran kali dilaksanakan di tempat terbuka areal persawahan, sehingga karya-karya yang disajikan menjadi lebih akrab dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosial masyarakat. Dari segi materi, jika pada pameran sebelumnya karya-karya yang ditampilkan adalah karya-karya yang terseleksi, tetapi pada pameran ini puluhan karya yang ditampilkan bersifat apa adanya dan tanpa melalui proses seleksi. Sebagian karya merupakan hasil pelatihan dari perajin atau perupa pemula dari desa setempat. Sebagai lainnya adalah karya-karya studi mahasiswa dan karya masyarakat yang belajar seni atau kerajinan secara otodidak. Karya-karya yang ditampilkan itu menunjukkan ihwal proses kreatif yang jujur dan berani dari masing-masing kreator, baik pada skill, medium (bahan), bentuk, dimensi, maupun nilai-nilai kontekstual yang hendak disampaikan kepada publik.

Masyarakat (publik) tentu bebas menilai (mengkritik), mengapresiasi, dan memosisikan kualitas karya-karya yang disajikan itu sesuai dengan tingkat apresiasi, kepentingan, dan manfaat yang ingin diperoleh darinya. Namun patut disadari bahwa karya-karya yang disajikan itu adalah artikulasi dari suatu proses kreatif sedang berlangsung yang perlu terus dijaga dan dirawat. Oleh karena itu, pameran ini diberi tema “Mopodaha” yang bermakna menjaga, merawat, atau melestarikan. Dengan tema tersebut dimaksudkan agar masyarakat (kita) terus berupaya merawat dan melestarikan secara berkelanjutan proses kreatif yang sedang dirintis itu menuju puncak-puncak kreasi yang lebih gemilang. Jika ini bisa dicapai, maka seni rupa akan mampu memberi beragam manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan cita-cita untuk membangun Desa Huntu sebagai desa kreatif akan terwujud.