Informasi

  • Fakultas Teknik

14 karya Mahasiswa Seni Rupa FT-UNG Terpilih untuk Pameran Ditimoli #2: Sang Pemula

  • 17 November 2025
  • 102 Views
  • By Admin
image

Para perupa muda Gorontalo yang dipelopori oleh Huntu Art Distrik (HarDistk) kembali menggelar pameran kedua dengan tajuk “Ditimoli #2: Sang Pemula” tahun 2025, setelah sukses pada gelaran perdana tahun 2022. Istilah Ditimoli (Bhs. Gorontalo) merujuk pada generasi muda atau penerus. Istilah tersebut menandai adanya regenerasi baru (perupa junior) sebagai penerus dalam pengembangan dunia seni rupa di Gorontalo. Pameran digelar di Riden Baruadi Gallery mulai 24 hingga 31 Oktober 2025. Pameran ini sangat penting, tidak saja untuk menunjukkan ragam kualitas karya-karya perupa muda dan memberi ruang apresiasi bagi masyarakat, tetapi juga sebagai upaya untuk menjaring talenta-talenta baru yang akan menjadi masa depan keberlangsungan ekosistem seni rupa Gorontalo.

Sebanyak 27 karya perupa muda Gorontalo terpilih untuk ditampilkan pada pameran itu. Dari 27 karya tersebut, 14 di antaranya merupakan karya mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni Rupa dan Desain Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo. Ke-14 mahasiswa tersebut adalah: Astuti Y. Batalipu, Fahruddin, Samdyanto I. Musa, Fathina Alifya Shafira, Fidyawati Abdali, Gagik Robiansa, Sulastiani, Giana Stone, Haikal Oli'I, Ika Dewi Handayani, Vidya Ramadhani Abas, Lidya Y. Dauhi, Ni Kadek Dwi Silawati, Putri, dan Yakob Kasim. Mereka tampil dengan karya-karya terbaru setelah lolos seleksi dari tim kurator. Karya-karya yang disajikan sangat menggugah baik secara tekstual maupun kontekstual, sebagai artikulasi dari kegelisahan intelektual yang dialami oleh masing-masing pribadi mahasiswa.  

Karya Vidya Ramadhani Abas yang bertajuk “Zat Besi”, menampilkan ikan cakalang sebagai subjek utama yang menjadi pusat pemaknaan. Secara tekstual, karya Vidya menggambarkan bentuk ikan cakalang mendekati realis dengan goresan-goresan ekspresif dan warna-warni dinamis. Perut ikan dibuat terbelah dan mengeluarkan koin mata uang yang simbolik. Secara kontekstual, karya tersebut hendak menyuarakan kritik sosial terhadap program hilirisasi nikel yang sarat nilai ekonomi, namun mengabaikan dampak mencemari lingkungan biota laut yang akhirnya membahayakan kesehatan masyarakat pengonsumsi ikan.

Tema lingkungan juga muncul pada karya Ika Dewi Handayani yang mengeksplorasi potensi artistik dari limbah ranting-ranting pohon sebagai material karya dengan menerapkan teknik assembling. Karya tersebut merupakan respons terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan, yang menggugah kesadaran tentang hubungan manusia dengan alam, serta bagaimana sesuatu yang dianggap sisa dapat diubah menjadi objek seni inpsiratif. Karya ini tidak hanya menawarkan gagasan visual yang inovatif, tetapi juga menghadirkan pesan ekologis dan refleksi tentang transformasi materi serta penghargaan terhadap alam.     

Berbeda dengan Vidya dan Ika, Fahruddin (mahasiswa seni rupa semester V) hadir dengan karya berjudul “Abadi”. Secara tekstual, karya tersebut menampilkan sosok perempuan memangku laki-laki tua menjepit batang rokok.  Kedua sosok itu ditampilkan dengan sapuan garis-garis tegas mirip teknik grafis, dengan warna hitam-putih dan abu-abu berlatar merah yang tampak kontras. Teknik visual dan komposisi warna yang ditampilkan menimbulkan kesan sangat dinamis sebagai daya tarik (nilai artistik) utama karya tersebut. Secara kontekstual, Faruddin hendak menyampaikan kehangatan kasih saya seorang ibu yang tak terbatas usia, dalam mengarungi dinamika kehidupan. Sosok laki-laki tua menjepit rokok yang ditampilkan pada karya itu bukan dimaksudkan untuk mengglorifikasi kebiasaan merokok, melainkan sebagai simbol rapuhnya perjalanan hidup. Dalam kondisi kerapuhan itu, dekapan kasih sayang seorang ibu tidak pernah pudar dan abadi.

Keterlibatan mahasiswa Seni Rupa FT UNG dengan menampilkan beragam bentuk karya visual pada hajatan pameran ini, merupakan bukti adanya hubungan solid antara dunia seni akademis dengan dinamika kehidupan seni di masyarakat. Sinergi ini penting dalam pengembangan dunia seni rupa, khususnya di Gorontalo. Pameran ini menjadi wadah untuk menampilkan karya, menerima apresiasi, dan melatih kepercayaan diri. Melalui pameran seperti ini, mahasiswa memperoleh pengalaman profesional dalam pengelolaan karya, penataan ruang, dan mengembangkan kemampuan komunikasi saat menjelaskan konsep dan proses kreatif kepada publik. Pameran juga dapat memperluas wawasan artistik, membangun jejaring dengan pelaku seni, serta memperkaya portofolio sebagai calon pendidik dan pekerja seni profesional. Diharapkan pameran ini menjadi proses pembelajaran kolaboratif yang mendukung perkembangan akademik dan kreativitas mahasiswa seni rupa FT UNG.