Informasi

  • Fakultas Teknik

Dari Limbah Panen Jadi Pendingin Alami, Arsitektur FT UNG Kenalkan Eco-Cooler Tongkol Jagung di Bongopini

  • 04 September 2026
  • 57 Views
  • By Admin
image

BONE BOLANGO,  — Limbah tongkol jagung yang selama ini tersisa setelah panen mulai diperkenalkan dengan fungsi baru melalui inovasi yang dikembangkan dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen membawa hasil penelitian berupa eco-cooler berbahan limbah tongkol jagung kepada masyarakat Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Kamis, 4 September 2026.

Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WITA tersebut dibuka oleh Kepala Desa Bongopini, Ismet Hamzah, S.AP., dan menjadi bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian agar inovasi yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi dapat diterapkan serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Eco-cooler yang diperkenalkan merupakan modul ventilasi alami yang dikembangkan dari campuran semen, pasir, dan limbah tongkol jagung. Modul dibuat dengan ukuran yang setara dengan roster yang umum tersedia di pasaran, yakni 20×20 cm dan 30×30 cm. Dengan bentuk tersebut, eco-cooler dirancang agar relatif mudah diaplikasikan pada bangunan tanpa memerlukan listrik maupun perangkat mekanis untuk menjalankan fungsinya.

Inovasi ini bekerja dengan memanfaatkan aliran udara alami yang melewati modul untuk membantu menciptakan kondisi ruang yang lebih sejuk. Berdasarkan hasil pengujian tim peneliti, penggunaan eco-cooler mampu menurunkan suhu ruang dari sekitar 29°C menjadi kisaran 26,6–27,1°C. Temuan tersebut kemudian menjadi dasar bagi tim untuk membawa inovasi dari tahap penelitian menuju tahap pemberdayaan masyarakat.

Sosialisasi dipandu langsung oleh Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ir. Ernawati, S.T., M.T., bersama lima dosen Arsitektur FT UNG, yaitu Rahmat Firdaus Bouty, S.Ars., M.Ars.; Niniek Pratiwi, S.T., M.T.; Nurnaningsih N. Abdul, S.T., M.T.; Syafriani, S.T., M.Ars.; serta Nur Mutmainnah, S.T., M.Ars. Selain menjelaskan konsep dan manfaat eco-cooler, tim juga memperkenalkan bagaimana potensi limbah pertanian di sekitar masyarakat dapat diolah menjadi bagian dari material bangunan yang lebih fungsional.

Foto bersama tim pengabdian, mahasiswa, perangkat desa, dan warga Desa Bongopini usai kegiatan

Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Delapan mahasiswa Program Studi Arsitektur yang tergabung dalam tim pelaksana turut mendemonstrasikan proses pembuatan modul eco-cooler kepada masyarakat. Keterlibatan mahasiswa tersebut sekaligus memberikan pengalaman pembelajaran di luar kampus, terutama dalam menerjemahkan pengetahuan arsitektur dan material bangunan menjadi solusi yang dapat dipahami dan diterapkan bersama masyarakat.

Sebagai persiapan menuju tahapan pelatihan berikutnya, warga Desa Bongopini juga diajak untuk mulai menyisihkan dan mengeringkan tongkol jagung sisa panen. Bahan tersebut nantinya akan dimanfaatkan dalam praktik pembuatan eco-cooler sehingga masyarakat tidak hanya mengenal inovasinya, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam proses pembuatannya.

Pemilihan tongkol jagung sebagai material menjadi menarik karena mempertemukan dua persoalan sekaligus, yakni pemanfaatan sisa hasil pertanian dan kebutuhan akan pendekatan pasif untuk meningkatkan kenyamanan termal bangunan. Dari material yang sederhana dan tersedia di lingkungan sekitar, tim Arsitektur FT UNG mencoba membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal menjadi elemen bangunan yang memiliki nilai guna lebih tinggi.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik UNG memperlihatkan bagaimana riset arsitektur dapat bergerak dari laboratorium menuju masyarakat. Hilirisasi eco-cooler tidak hanya menjadi upaya memperkenalkan sebuah produk hasil penelitian, tetapi juga membangun pengetahuan masyarakat mengenai pemanfaatan material lokal, pengelolaan limbah pertanian, dan penerapan ventilasi alami pada bangunan.

Kegiatan di Desa Bongopini menjadi tahap awal pemberdayaan yang akan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan modul. Melalui proses tersebut, tim berharap masyarakat nantinya mampu memahami sekaligus mengembangkan pemanfaatan tongkol jagung secara mandiri, sehingga inovasi yang lahir dari Program Studi Arsitektur FT UNG dapat tumbuh menjadi solusi yang relevan dengan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.