Pelestarian budaya tidak selalu hadir melalui panggung pertunjukan semata. Di era ketika identitas lokal semakin berhadapan dengan arus modernisasi, upaya menjaga warisan tradisi justru menuntut pendekatan yang lebih terorganisir, terstruktur, dan berjejaring. Semangat inilah yang tampak dalam langkah Asosiasi Pegiat Pencak Silat Budaya Indonesia (APPSBI) Gorontalo yang terus mendorong eksistensi silat tradisional agar mampu menembus panggung nasional .
Di balik gerakan tersebut, keterlibatan akademisi menjadi salah satu elemen penting. Salah satunya datang dari dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo yang mengambil peran aktif dalam penguatan organisasi, dokumentasi, serta strategi pengembangan silat tradisional sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah yang perlu dijaga keberlanjutannya.
Kehadiran unsur akademik dalam APPSBI memberi warna baru bahwa pelestarian budaya hari ini tidak cukup hanya mengandalkan pewarisan lisan, tetapi membutuhkan tata kelola yang lebih modern. Mulai dari pendokumentasian, pengarsipan, promosi digital, hingga penguatan jejaring kelembagaan menjadi aspek yang harus dibangun agar silat tradisional tidak berhenti sebagai warisan lokal, melainkan dapat dikenal lebih luas pada level nasional.
Fakultas Teknik melalui kapasitas keilmuan yang dimiliki melihat bahwa budaya dan teknologi bukan dua hal yang berjalan sendiri. Pendekatan sistem, digitalisasi informasi, serta strategi promosi berbasis media menjadi bagian yang dapat dikontribusikan untuk memperkuat eksistensi seni bela diri tradisional Gorontalo. Dengan demikian, dosen tidak hanya hadir dalam ruang akademik, tetapi juga mengambil bagian dalam isu pelestarian budaya yang bersentuhan langsung dengan identitas daerah.
Langkah APPSBI Gorontalo untuk membawa silat tradisional ke panggung nasional juga sejalan dengan upaya memperluas pengenalan budaya lokal kepada generasi muda. Silat tradisional tidak lagi dipandang semata sebagai seni bela diri, tetapi juga sebagai warisan nilai, filosofi, dan sejarah yang membentuk karakter masyarakat Gorontalo.
Melalui keterlibatan dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo dalam gerakan ini, terlihat bahwa kontribusi akademisi dapat menjangkau ranah yang lebih luas, termasuk penguatan budaya lokal. Sinergi antara keilmuan, organisasi budaya, dan komunitas menjadi bukti bahwa perguruan tinggi mampu hadir sebagai bagian dari solusi dalam menjaga identitas daerah agar tetap hidup, berkembang, dan dikenal di tingkat nasional.