Gorontalo – Layanan perpustakaan tidak lagi hanya berlangsung di antara rak buku dan ruang baca. Perkembangan teknologi telah memperluas cara masyarakat menemukan, mengakses, dan memanfaatkan sumber pengetahuan melalui platform digital. Perubahan tersebut menjadi perhatian mahasiswa Program Studi Sistem Informasi, Jurusan Informatika, Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo saat melakukan penelitian terhadap Digital Library IARPUS milik Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo.
Kegiatan penelitian dan observasi dilaksanakan mulai dari Selasa, 28 April 2026, sebagai bagian dari penerapan mata kuliah Analisis dan Desain Berorientasi Objek (ADBO). Melalui kegiatan ini, mahasiswa mempelajari sistem IARPUS yang telah digunakan untuk mendukung layanan perpustakaan digital sekaligus menyusun arah pengembangannya berdasarkan proses bisnis dan kebutuhan pengguna.
Tim mahasiswa melakukan observasi, wawancara, dan pengumpulan data secara langsung bersama pihak Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo. Proses tersebut menjadi tahapan penting karena pengembangan sebuah sistem informasi tidak cukup hanya didasarkan pada kemampuan teknis, tetapi juga perlu mempertimbangkan kebiasaan kerja pengelola dan pengalaman masyarakat ketika menggunakan layanan.
Dalam kegiatan observasi, mahasiswa mempelajari bagaimana layanan perpustakaan digital dijalankan, fungsi-fungsi yang tersedia dalam sistem, serta hubungan antara kebutuhan pengguna dan pengelolaan informasi oleh pihak perpustakaan. Wawancara kemudian dilakukan untuk memperoleh penjelasan lebih mendalam mengenai proses bisnis yang berjalan dan berbagai aspek yang dapat dikembangkan pada masa mendatang.
Hasil analisis menunjukkan bahwa Digital Library IARPUS telah memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses layanan perpustakaan secara digital. Kehadiran sistem tersebut menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan layanan, terutama bagi pengguna yang membutuhkan akses terhadap informasi tanpa harus selalu datang langsung ke gedung perpustakaan.
Namun, perkembangan kebutuhan pengguna menuntut layanan digital untuk terus disesuaikan. Kemudahan navigasi, kejelasan alur layanan, pengelolaan data, dan keterhubungan antarfungsi perlu dianalisis secara terstruktur agar sistem dapat digunakan dengan semakin efektif dan efisien.
Berangkat dari hasil pengumpulan data tersebut, mahasiswa menyusun rancangan pengembangan sistem dengan pendekatan Analisis dan Desain Berorientasi Objek. Kebutuhan yang ditemukan diterjemahkan ke dalam sejumlah model Unified Modeling Language atau UML agar proses pengembangan dapat terdokumentasi secara sistematis.
Use case diagram digunakan untuk menggambarkan hubungan antara pengguna dan berbagai fungsi yang tersedia dalam sistem. Melalui diagram tersebut, peran setiap pengguna dapat dipetakan secara lebih jelas, termasuk aktivitas yang dapat dilakukan oleh masyarakat sebagai pengguna layanan maupun petugas sebagai pengelola sistem.
Mahasiswa juga menyusun activity diagram untuk menggambarkan urutan aktivitas dalam setiap layanan. Pemodelan ini membantu memperlihatkan bagaimana sebuah proses dimulai, tahapan yang harus dilalui pengguna, keputusan yang mungkin muncul, hingga proses tersebut selesai.
Sementara itu, sequence diagram digunakan untuk menjelaskan interaksi antara pengguna dan komponen sistem berdasarkan urutan waktu. Adapun class diagram menyajikan gambaran mengenai struktur data, atribut, serta hubungan antarkomponen yang dibutuhkan dalam pengembangan aplikasi.

Desain aplikasi IARPUS berbasis Mobile
Penggunaan berbagai diagram tersebut membantu mahasiswa melihat IARPUS tidak hanya dari tampilan yang digunakan masyarakat. Mereka juga mempelajari proses yang bekerja di balik layanan, mulai dari pertukaran informasi, pengelolaan data, hingga keterhubungan antara satu fungsi dan fungsi lainnya.
Dokumentasi hasil analisis diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan IARPUS pada tahap berikutnya. Dengan rancangan yang lebih terstruktur, pengembangan sistem dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan yang telah dipetakan dan bukan semata-mata melalui penambahan fitur tanpa memahami manfaatnya bagi pengguna.
Kegiatan ini sekaligus mempertemukan mahasiswa dengan konteks nyata transformasi layanan publik. Perpustakaan digital memiliki karakteristik yang berbeda dari sistem komersial karena orientasinya tidak hanya pada efisiensi operasional, tetapi juga pada kemudahan masyarakat memperoleh akses terhadap pengetahuan dan informasi.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi sarana untuk menerapkan kemampuan analisis proses bisnis, penggalian kebutuhan pengguna, dan pemodelan sistem yang dipelajari selama perkuliahan. Mereka belajar menghubungkan teori dengan kondisi lapangan serta menyusun rekomendasi berdasarkan informasi yang diperoleh langsung dari pengelola layanan.
Selain kemampuan teknis, kegiatan ini turut mengasah keterampilan mahasiswa dalam berkomunikasi dengan mitra, menyusun pertanyaan wawancara, mendengarkan kebutuhan pengguna, bekerja dalam tim, dan mendokumentasikan hasil penelitian. Kemampuan tersebut penting karena seorang profesional Sistem Informasi tidak hanya dituntut mampu memahami teknologi, tetapi juga harus dapat menjembatani kebutuhan organisasi dengan solusi digital yang akan dikembangkan.
Melalui kegiatan akademik berbasis studi kasus ini, Program Studi Sistem Informasi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami bahwa keberhasilan sebuah aplikasi ditentukan oleh kesesuaiannya dengan kebutuhan pengguna. Sistem yang baik tidak hanya memiliki fungsi yang lengkap, tetapi juga perlu mudah digunakan, mendukung proses kerja, dan memberikan manfaat yang jelas bagi organisasi maupun masyarakat.
Tim mahasiswa berharap hasil analisis dan pemodelan yang telah disusun dapat memberikan kontribusi berupa rekomendasi untuk mendukung peningkatan kualitas Digital Library IARPUS. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu referensi bagi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Gorontalo dalam merencanakan layanan perpustakaan digital yang semakin adaptif terhadap perkembangan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran mahasiswa Sistem Informasi dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan transformasi digital di lingkungan pemerintahan. Melalui proses observasi, analisis, dan perancangan, mahasiswa tidak hanya memperkuat kompetensi akademiknya, tetapi juga ikut menghadirkan gagasan yang dapat mendukung layanan pengetahuan yang lebih mudah dijangkau oleh masyarakat Gorontalo.